Monday, May 02, 2016

Pulang Kampung Telah Meyumbang Kebangkitan Tradisi Pertenunan


Belum lama ini Lewa Pardomuan membuat daftar nama sejumlah orang di Indonesia yang terlibat upaya membangkitkan tradisi pertenunan. Nama saya, berikut nama MJA Nashir, tidak tercantum pada daftar itu, padahal hemat saya seharusnya tercantum. Selama ini memang kami belum memproduksi ulos ataupun disain/pola baru. Namun saya yakin bahwa kami telah mengambil langkah-langkah penting dalam upaya merevitalisasi tradisi pertenunan Batak.
Menurut saya, revitalisasi tradisi pertenunan masyarakat “adat” adalah urusan para penenun. Bukanlah urusan para perancang mode. Dan bukan pula urusan dunia fashion.
Kaum penenunlah yang telah menciptakan semua tradisi pertenunan di Indonesia. Hasil kolektif mereka telah terhimpun selama berabad-abad. Tradisi pertenunan di Indonesia merupakan daya cipta atau kreatifitas dan keterampilan para penenun dalam mengelola sumberdaya setempat maupun pengaruh-pengaruh dari luar. Setiap generasi mengembangkan tradisi itu atas dasar warisan dari generasi-generasi sebelumnya. Berdasarkan asumsi (yang saya rasa benar) bahwa tradisi pertenunan awal bersifat relatif sederhana kemudian bertambah kompleks seiring perjalanan waktu, maka hasilnya merupakan produk budaya dari kaum perempuan kampung yang memiliki keterampilan artistik dan keterampilan lain. (Saat ini tidak dapat disangkal bahwa kita sedang menyaksikan tahap menurunnya tingkat kompleksitas dan mutu artistik, dengan banyak jenis tenunan yang sudah hilang dan sebagian lagi yang sedang menghadapi kepunahan.) Kaum perempuan di kampung sudah tidak lagi mengembangkan tradisi pertenunan di atas dasar warisan masa lampau: sebagian besar pengetahuan dan keterampilan yang telah terhimpun selama sekian abad sudah tidak bisa mereka akses lagi. Menurut saya, upaya revitalisasi harus berfokus pada pengembangan kembali keterampilan mereka.
Beberapa di antara contoh-contoh kebangkitan kembali yang tercatat di daftar Lewa Pardomuan merupakan hasil karya para perancang mode yang telah memberi pesanan kepada para penenun. Kerjaan ini biasanya berkaitan dengan perkembangan di dunia mode yang “mengatasnamakan” atau merujuk pada tradisi pertenunan “asli”. Apakah kerjaan ini dapat dikatakan “kebangkitan” atau revitalisasi? Saya rasa tidak. Saya tidak ada masalah dengan kaum perancang; karya mereka penting dan bahkan memukau. Tetapi penghidupan kembali tradisi pertenunan “asli” melalui karya kaum perancang? Saya rasa ini tidak benar. Kerjaan kaum perancang adalah usaha yang kompetitif dan bersaing atas dasar merujuk atau “mengatasnamakan” keterampilan, sumberdaya dan pola masyarakat “adat”. Bila modal atau usaha kaum perancang itu bangkrut, “kebangkitan” juga akan hancur karena semata bergantung dari usaha tersebut. Usaha itu tidak berakar dalam kebudayaan kaum penenun. Tidak pula berakar di kalangan kaum penenun sendiri; mereka itu hanya bekerja untuk para perancang.
Hemat saya, penghidupan kembali tradisi pertenunan berurusan dengan pemberian inspirasi kepada semangat, pengetahuan serta keterampilan kaum penenun. Pengetahuan yang saya maksud itu berkaitan dengan peran mereka sebagai penjaga dan pelestari warisan teknis dan warisan disain/pola. Oleh UNESCO warisan ini disebut warisan tak benda (intangible heritage). Keterampilan yang dimaksud adalah kepandaian untuk mewujudkan pengetahuan itu dalam bentuk “benda”. Revitalisasi tradisi pertenunan berurusan dengan perluasan keterampilan tangan para penenun tetapi juga perluasan dan pengembangan apa yang ada di benak dan di hati mereka. Hasil berupa benda hanyalah perwujudan sesaat dari pergelutan para penenun dalam dunia intelektual / spiritual / teknis mereka. Bila para penenun tidak “diasuh” (secara fisik, spiritual, intelektual), maka tradisi pertenunan tidak dapat dihidupkan kembali. Tenunan indah hasil revitalisasi hanya akan muncul bilamana para penenun terinspirasi, memiliki bakat, dilatih dengan baik dan memiliki “jam terbang” yang lama – dan bilamana mereka cukup memiliki rasa percaya diri dan percaya pada keterampilan yang dimiliki. Bila tidak, maka mereka tidak akan menghabiskan tenaga untuk menciptakan tenunan dengan memanfaatkan keterampilan mereka secara maksimal. Tambahan pula, mereka memerlukan “kelapangan” untuk dapat membuat tenunan yang indah. “Kelapangan” yang dimaksud adalah waktu yang cukup serta kekuatan finansial. Selanjutnya, mereka membutuhkan pola-pola sebagai wahana untuk mengasah keterampilan mereka berdasarkan referensi contoh-contoh hasil karya leluhur. Kebangkitan tradisi pertenunan tidak dapat dikembangkan di kalangan penenun yang susah payah kehidupannya, yang hanya memperoleh penghasilan minim dari pasaran dan harus menghidupi keluarga yang terkena dampak kemiskinan. Bila seorang penenun terpaksa menjadi buruh kerja (sebagaimana biasa terjadi kalau dia menerima pesanan dari perancang mode), maka teknik-teknik yang akan dipraktekkannya sangat terbatas jumlahnya, diulang-ulang terus dan membosankan, hanya untuk menghasilkan upah yang tidak memadai. Menghidupkan kembali warisan pertenunan kemungkinan tidak sempat mereka pikirkan lagi. Saat mereka berfokus pada pemenuhan tuntutan disain yang ditetapkan orang lain, maka yang mereka lakukan bukan merevitalisasi tradisi mereka melainkan bertindak sebagai buruh bayaran. Posisi mereka adalah posisi bergantung. Revitalisasi berkenaan dengan pemberian “ruang gerak” atau keleluasan untuk mengekspresikan kreatifitas para penenun, kreatifitas yang sesungguhnya melimpahruah.
Proyek-proyek “Pulang Kampung” saya berintikan memberi kepada para penenun, bukan meminta sesuatu dari mereka. Artinya, membalikkan arah arus dunia yang mengeksploitasi (memeras) mereka. Kepada kaum penenun tim Pulang Kampung telah mengembalikan warisan pertenunan mereka, dalam bentuk cetak (sebuah buku yang mendokumentasikan inventaris pola dan jenis pertenunan yang pernah ada) supaya mereka dapat mengakses pengetahuan itu --- suatu hal yang mustahil bagi mereka dalam situasi tidak adanya museum yang melayani kebutuhan informasi dan juga karena di kampung-kampung sudah tidak ada lagi karya-karya pertenunan indah dari zaman dahulu yang dapat menjadi contoh. Karena buku saya Legacy in Cloth, Batak Textiles of Indonesia dicetak dalam bentuk “mewah”, maka buku itu telah membangkitkan rasa bangga atas warisan tradisi di kalangan para penenun. Film kami, Rangsa ni Tonun, juga ikut menciptakan rasa bangga. Film itu mengingatkan kepada mereka bahwa di masa lampau di Tano Batak, saat kebudayaan masih sangat hidup, masyarakat percaya bahwa para penenun melakukan kerja Dewi Si Boru Hasagian.  Kerja-kerja mereka dipuja dan dipuji. Tambahan lagi, para pemain dalam film kami, yang terdiri dari penenun biasa dari kampung, merasa sangat bangga karena telah menjadi “bintang film” yang mempertontonkan bakat pertenunan mereka kepada dunia luar.
Saya yakin bahwa berbagai “ekspedisi” Pulang Kampung yang dilakukan MJA Nashir dan saya sendiri telah cukup banyak ikut meningkatkan kesadaran bahwa tradisi pertenunan Batak sedang merosot dan sudah di ambang kepunahan ---- juga kesadaran bahwa hal ini semestinya tidak boleh dibiarkan berlangsung terus. Sekarang sudah ada beberapa orang di “lini depan” yang mulai membahas --- dan mulai mengambil langkah-langkah – tentang revitalisasi tradisi pertenunan Batak.
Namun sampai saat ini semua perhatian ini belumlah berhasil mengatasi situasi menyedihkan para penenun Batak. Karena “menghilangnya ulos” telah menjadi topik yang ramai dibicarakan sekarang, banyak orang merasa prihatin --- tentang ulos yang menghilang, bukan tentang nasib para penenun. Sedikit sekali yang berfikir mengenai hubungan antara situasi kaum penenun dengan merosotnya tradisi pertenunan. Tradisi pertenunan di kampung merosot terus karena para penenun tidak menerima penghasilan yang layak dari hasil karya mereka dan karena perempuan muda tidak tertarik untuk belajar menenun. Memang mengapa mereka harus mau menempuh kehidupan yang melarat yang akan menjadi hasil kerja luar biasa berat sebagai seorang penenun jaman ini?
Tahun lalu dilaksanakan suatu upacara yang bertujuan untuk merayakan "warisan tak benda” tetapi sebenarnya hanya mengetengahkan warisan “benda”. Si penenun tidak diikutsertakan. Si penenun belum cukup dihargai dan dirayakan walaupun dialah sumber dan pencipta dari tenunan yang oleh semua pihak, yang katanya dicintai dan ingin dilestarikan. Apakah ini terjadi karena walaupun si penenun adalah keturunan dewi pertenunan dari mitologi, namun dia hampir tidak kelihatan, di posisinya yang paling rendah di struktur sosial masyarakat?
Kemana saja saya pergi, saya mendorong para pemimpin politik untuk memberi kepada para penenun apa saja yang mereka butuhkan tidak hanya untuk bertahan tetapi juga untuk hidup secara layak dan sejahtera:
Tetapkan kampung-kampung penenun sedemikian rupa sehingga para turis mudah berjumpa langsung dengan para penenun.
Muliakan para penenun dengan mengakui bahwa mereka adalah pahlawan budaya.
Sebarluaskan brosur-brosur mengenai tradisi pertenunan.
Promosikan para pembuat kain tenun sebagai seniman; jangan biarkan mereka tidak dikenal dan hanya dianggap sebagai “buruh” atau pengrajin tanpa nama.
Soroti peran penenun, tidak hanya peran perancang mode atau peran politisi yang hanya menggunakan keterampilan si penenun untuk menunjukkan bahwa perancang mode atau politisi itu adalah “pelindung” dan promotor budaya.
Di Indonesia biasanya perhatian diberikan “ke atas”, kepada orang yang berstatus tinggi. Menghidupkan kembali tradisi pertenunan berarti membalikkan arah arus ini ---- atau mengakui bahwa si penenun, walaupun miskin dan “sederhana”, namun merupakan pahlawan budaya dan perlu dihargai dan dirayakan karena itu.

Inilah, Lewa, yang merupakan tujuan upaya saya selama ini. Inilah mengapa kami memberi nama “Pulang Kampung” pada proyek-proyek saya: kami ingin agar pemberian penghargaan, penghormatan dan sumberdaya mengalir ke kampung-kampung tempat benda-benda budaya seperti ulos dihasilkan. Para penenun selama ini telah diperas secara ekonomi maupun secara sosial, dan fenomena ini nampak jelas dampaknya pada hasil karya mereka. Bila kita menginginkan agar terjadi revitalisasi pertenunan, maka kita membutuhkan revitalisasi budaya yang menghubungkan kembali para penenun dengan karya-karya nenek moyang mereka dan memberi inspirasi pada kaum muda agar mereka juga ingin menjadi pewaris dan pelestari tradisi-tradisi mereka di masa mendatang.

No comments:

Post a Comment