Showing posts with label Hari Ulos Nasional. Show all posts
Showing posts with label Hari Ulos Nasional. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

Hari Ulos Nasional (Sebuah perayaan warisan budaya tak benda? Saya rasa tidak.)





Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mendaftar ulos Batak tradisional sebagai ‘warisan budaya tak benda nasional’ (‘national intangible cultural heritage’). Peringatan ini dirayakan di Jakarta dan Sumatera Utara pada tanggal 17 Oktober 2015 sebagai Hari Ulos Nasional dengan semangat untuk menjadikannya sebagai acara tahunan.
Panusunan Simanjuntak membacakan puisinya tentang ulos
Acara ini dirayakan secara megah. Berbagai pidato berkumandang; festival musik tradisional Batak (gondang) dan tarian tradisional (tortor) dimainkan; fashion show berbahan ulos diperagakan, film MJA Nashir dan saya “Rangsa ni Tonun” tentang teknik tenun Batak Toba diputar; dan Panusunan Simanjuntak membacakan puisinya tentang ulos kepada khalayak yang sangat apresiatif. Semua orang dimohon mengenakan ulos dan mereka lakukan. Ada kebanggaan, bahkan euforia.

Sementara saya di sini di Belanda dan hanya bisa merayakannya secara kecil-kecilan, tak lebih dari sekedar mengikuti proses perayaan tersebut melewati Facebook. Pada suatu pendapat saya membuat komentar bahwa tradisi ulos juga bisa dirayakan sebagai tangible heritage (warisan budaya benda). Sulit untuk menentukan dari segenap report yang ada di Facebook yang mana sesungguhnya bagian yang ‘intangible' yang masuk ke dalam perayaan tersebut, namun komentar saya tentang ‘tangible heritage’ Batak dimaksudkan untuk membuat orang mulai berpikir tentang perbedaan antara yang intangible dan yang tangible atas ulos.

Sejauh yang bisa saya tentukan, seperti juga yang biasa menjadi kutipan banyak orang tentang ulos: bahwa ulos merupakan tanda identitas Batak, pembawa berkah dari hulahula kepada boru dan menjadi kendaraan bagi doa karena tanpa itu doa tidak mampu mencapai dunia ruh/spiritualitas Batak tradisional (bahwa tak seorang pun lagi akan mengakui percaya dunia spiritualitas tradisional tersebut karena membawa sebuah stigma anti-Kristen). Apakah tidak ada hal-hal lainnya lagi yang merupakan intangible heritage (warisan budaya tak benda)?

Intangible Heritage, menurut UNESCO (tidak diragukan lagi inspirasi di balik program ini) meliputi tidak hanya unsur fisik (tangible) tapi "juga mencakup ekspresi hidup dan tradisi-tradisikelompok dan masyarakat yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia yang telahdiwariskan dari nenek moyang mereka dan diturunkan kembali kepada keturunanmereka, dalam banyak kasus berlangsung secara lisan. "..." Sebagai penggerakkeragaman budaya, living heritagesangat rapuh.”

Bagi pikiran saya, ada ironi yang sangat menyedihkan dan mendalam di dalam perayaan warisan budaya tak benda dari ulos tersebut justru karena komponen yang telah punah itu. Saya masih bertanya-tanya apakah bagian 'intangible' dari ulos itu telah disinggung dengan cara apapun pada tanggal 17 Oktober? Keprihatinan saya adalah bahwa sangat sedikit yang diketahui lagi tentang bagian 'intangible' ulos. Jika para penyelenggara dan sekarang mereka ingin merayakan ulos dari segi ini, akankah hari perayaan itu tidak tampak berbeda? Maksud saya ini dalam arti harfiah. Sepertinya hari perayaan itu didasarkan pada status quo ulos yang nyata di masa sekarang.

Dari gambar yang saya lihat, sebagian besar tekstil yang dipakai adalah dari jenis desain Sadum. Sadum aslinya bukanlah ulos Batak Toba; asalnya dari Angkola. Menjadi terobosan secara perlahan selama abad ke-20, pertama ke Silindung, kemudian selebihnya ke Toba, lalu ke Simalungun dan Karo. Awalnya itu turun di luar adat tetapi hanya menjelang akhir abad lalu secara bertahap menjadi diterima, atau setidaknya tidak lagi dilarang, sebagai kain adat. Sekarang jenis kain ini telah menjadi desain ulos yang dominan yang telah memudarkan hampir semua jenis ulos lainnya (dengan pengecualian sesekali Ragi Hotang, Ragidup dan Pinunsaan dan suji Batak). Betapa ironis bahwa orang-orang justeru menggunakan desain kain Angkola ini untuk merayakan warisan tenun tak benda dari Toba! Inilah sebuah gejala kepunahan yang tanpa disadari atas warisan budaya takbenda dari Toba, dan bukannya cara untuk mendorong pelestariannya.

Kedua, saya melihat bahwa sebagian besar ulos yang dipakai adalah tenun ATBM (semi-mekanik) dan bukan tenun tradisional (tenun gedhogan). Kain-kain tenun itu dihiasi dengan benang sintetis yang tidak ada hubungannya dengan warisan tekstil lokal, tetapi merupakan gejala dari pengaruh eksternal yang relatif baru. Dalam pengalaman saya, warisan tak benda (intangible) dari ulos dinyatakan terutama dalam cara kain tradisional Batak yang dibuat melalui alat tenun gedhogan dan bukan hanya di dalam bagaimana kain-kain tersebut digunakan dalam ritual. Aturan desain dan teknik (ketakbendaan ulos) menghasilkan penyegaran fisik (kebendaan ulos) dari pemikiran tradisional Batak atau pandangan dunia (warisan budaya tak benda). Justru inilah yang telah menghilang dalam produksi ulos untuk pasar. Ada beberapa alasan untuk ini. Salah satunya adalah bahwa gereja telah mengecilkan pandangan dunia Batak tradisional. Lainnya adalah bahwa telah berlangsung lama di masa sekarang, pasar ulos belum mendukung karya terbaik yang bisa dibuat seorang penenun dengan waktu yang diperlukannya untuk menghasilkan kualitas tinggi. Sekarang penenun hanya menghasilkan yang serba cepat-cepat saja. Mereka dipaksa bersaing dengan produk yang lebih cepat dari alat tenun semi-mekanik (ATBM) tersebut. Dan itu berarti bahwa mereka akan selalu gagal! Mereka akan selalu memiliki rasa kekurangan karena pekerjaan mereka lebih lambat dan pendapatan mereka lebih kecil dari pemilik pabrik dan pekerja ATBM. Hal ini berdampak bagi tingkat kerja mereka, kualitasnya menjadi lebih rendah.

Saya ingin tahu dimana ada komponen dari perayaan tersebut yang telah dirancang untuk mendorong karya terbaik dan yang tradisional dari seorang penenun? Apakah ada tenunan yang telah diseleksi karena kandungan intangible tradisional mereka? Saya ragu karena justru itulah yang telah hilang. ‘Ulos terpanjang' yang dirayakan pada hari itu dibuat pada alat tenun semi-mekanis (ATBM). Apakah masih ada lagi orang Batak yang ingat bahwa ulos yang sangat panjang dulu dibuat dengan alat tenun gedhogan untuk digunakan selama horja bius, ritus tahunan besar merayakan kelangsungan hidup?



Ketiga, ada fashion show dari bahan bakal yang disebut 'ulos', tapi dari semua yang tampak itu, merupakan kain yang terbuat dari alat tenun ATBM. Fashionalisasi adalah fungsi dari kekuatan ekonomi global yang menggabungkan kepribumian (adat) tetapi meninggalkannya sedikit atau tak ada ruang lagi untuk berfungsi pada batasan-batasannya sendiri. Saya mencoba memahami produk fashion menggunakan kain ulos menjadi bertentangan dengan perayaan warisan budaya tak benda. Fashion dapat merayakan 'penampilan' dari ulos, merayakan desain dengan mengesampingkan komponen multi-dimensi ketakbendaan (intangible). Fashion ulos ditampilkan untuk memperagakan bahwa orang Batak telah memasuki ranah yang disebut 'modernitas'. Ironisnya lagi bahwa orang-orang ingin menunjukkan bahwa mereka adalah modern, padahal nyatanya 'modernitas' adalah semuanya yang telah mereka miliki. Sejarah kuno mereka atas warisan budaya tak benda telah hilang. Fashion menggerakkan tradisi ulos bahkan lebih menjauh dari warisan budaya tak benda yang agung dari masa silam.

Saya masih terus bertanya-tanya apakah ulos dapat dihidupkan kembali? Ini akan menjadi sebuah anakronisme jika dihidupkan kembali, referensi ke dunia Batak dari masa lalu. Saya percaya ada nilai dalam kebangkitan macam itu karena saya memperhatikan bahwa banyak orang Batak yang lapar dan haus akan pengetahuan tentang warisan mereka. Ini akan menghasilkan pemahaman yang lebih lengkap dari identitas mereka. Hari-hari di masa silam memang tidak akan pernah kembali, tetapi tradisi tenun masih bisa diturunkan menjadi sesuatu yang sangat berharga, yang artistik, yang bentuknya terbatas. Apakah itu masih ada di mana saja dalam bentuknya yang intangible? Karena kebangkitan tradisi ulos tergantung pada aksesibilitas pengetahuan intangible ini. Pengetahuan intangible adalah sumber dari kain yang tangible. Apa manfaat intangible warisan Batak dari adanya Hari Ulos Nasional? Apa manfaatnya bagi para penenun tradisional (gedhogan)?

Saya ingin mengeluarkan tantangan bagi para penyelenggara Hari Ulos Batak Nasional. Saya menantang Anda untuk memanfaatkan energi dan antusiasme perayaan ulos ini di tahun-tahun mendatang agar benar-benar bermanfaat bagi para penenun tradisional Batak. Saya menantang Anda untuk menyelidiki 'karakter ketakbendaan' (‘intangible character’) dari ulos Batak (di luar fungsi kain) dan kemudian membuatnya dikenal untuk anak cucu, merayakannya untuk anak-anak dan cucu-cucu Anda, sehingga generasi mendatang pun bisa mengaksesnya. Apa perlunya perayaan warisan budaya takbenda itu jika warisan itu punah? Apa sesungguhnya yang sedang dirayakan pada tanggal 17 Oktober? Apakah barangkali hanya sekedar kebanggan etnis Batak?

(Terjemahan oleh MJA Nashir.)

Monday, October 19, 2015

A celebration of intangible heritage? I don't think so.

Certificate of registry from FB page of Enni Martalena Pasaribu
A year ago, the Indonesian Ministry of Culture registered traditional Batak ‘ulos’ as ‘warisan budaya tak benda nasional’, that is, ‘national intangible cultural heritage’. This was celebrated in Jakarta and North Sumatra on 17 October 2015 as National Ulos Day with the additional resolve to make it an annual event.  
Invitation and line-up of events
from FB page of Enni Martalena
Pasaribu
The event was celebrated in grand style. There were the requisite speeches; the festive Batak traditional music (gondang) was played, and traditional dances (tortor) were performed; a fashion show of clothing items made of ulos was staged; MJA Nashir’s and my film Rangsa ni Tonun about Toba Batak weaving techniques was shown, and Panusunan Simanjuntak recited his poem about ulos to a highly appreciative audience. Everybody was asked to wear ulos and they did. There was pride, even euphoria.

Panusunan Simandjuntak recited his poem about ulos.
Photo credit: Tatan Daniel



I am here in The Netherlands and I can do little more than follow the proceedings on Facebook. At one point I made a comment that the ulos tradition could also be celebrated as tangible heritage (budaya benda). It is difficult to determine from Facebook reports where the ‘intangible’ part came into the celebrations (or even if it was the intention), but my remark about Batak tangible heritage was meant to make people think about the difference between intangible and tangible ulos.

As far as I have been able to determine, the usual things were being cited about ulos: it is a sign of Batak identity, a carrier of blessings  from wife-givers to wife-takers, and a vehicle of prayer because without it prayers are not able to reach the traditional Batak spirit world (not that anybody anymore will confess to believing in that traditional spirit world because it carries an anti-Christian stigma). Was that it, then? Was that the sum of the intangible heritage?


To my mind, there was a sad and deep irony in the celebration of the intangible heritage of ulos because precisely that component has gone extinct. I still wonder if the ‘intangible’ part of ulos was broached in any way on the 17th of October? My concern is that very little is known anymore about the ‘intangible’ part of ulos. If the organizers and those present wanted to celebrate this facet of ulos, would the day not have looked different? I mean this in a literal sense. It looks like the day was based on the status quo of tangible ulos in current times.

From the pictures I saw, most of the textiles worn were of the sadum design type. The sadum is not originally a Toba Batak ulos; it originates from Angkola. It made inroads slowly during the 20th century, first into Silindung, then the rest of Toba, then Simalungun and Karo. Initially it fell outside adat but only towards the end of the last century gradually became accepted, or at least no longer banned, as an adat textile. Now it has become the dominant ulos design eclipsing almost all others (with the occasional exception of the Ragi Hotang, Ragidup and Pinunsaan and the suji Batak). How ironic that people were using precisely this Angkola textile design to celebrate the intangible weaving heritage of the Toba! An unwitting symptom of the extinction of the intangible heritage of the Toba, and not a way to encourage its perpetuation.

Second, I saw that the majority of the ulos being worn had been woven on ATBM (semi-mechanized) looms and not the traditional backstrap loom. They were embellished with synthetic yarns that have nothing to do with the local textile heritage, but are symptomatic of relatively recent external influence. In my experience, intangible ulos heritage is expressed primarily in the traditional way Batak textiles are made on backstrap looms and not just in how they are used in ritual. Rules of design and technique (intangible ulos) result in a physical outing (tangible ulos) of traditional Batak thinking or worldview (intangible heritage). Precisely this has disappeared in ulos production for the market. There are several reasons for this. One is that the Church has discouraged the traditional Batak worldview. Another is that for a long time now, the ulos market has not supported the best work that a weaver can make at the slow tempo required to produce high quality. Now weavers just produce quickly, quickly. They have to compete with the faster production on semi-mechanical looms, and that means that they will always fail. They will always have a sense of being deficient because their work is slower and their income less than that of the factory owner and workers. It has also got to the stage that the quality of their work is also lower.

The longest ulos from FB page of Enni Martalena Pasaribu
I wondered if any component of the celebrations had been designed to encourage the best and traditional work of weavers? Were any weavings commissioned because of their traditional intangible content? I doubt it because that is precisely what has been lost. The ‘longest ulos’ that was celebrated on that day was made on a semi-mechanized loom. Are there any Batak left who remember that very long ulos used to be made on backstrap looms to use during the horja bius, the great annual rite celebrating the continuity of life?

Photo from FB
Third, there was a fashion show of textiles made from so-called ‘ulos’ but from all appearances these had also been made on ATBM looms. Fashionalization is a function of global economic forces that incorporate the indigenous but leave it little or no room to function on its own terms. I perceive fashion production using ulos cloth to be antithetical to the celebration of intangible heritage. Fashion may celebrate the ‘appearance’ of ulos, celebrate two-dimensional design to the exclusion of the multi-dimensional intangible component. Fashion ulos are shown to demonstrate that the Batak have entered the realm of so-called ‘modernity’. Ironic again that people wish to demonstrate that they are modern, when in fact ‘modernity’ is all that they have. Their ancient history of intangible heritage has been lost. Fashion moves the ulos tradition even further away from the great intangible heritage of the past.

I wonder if ulos can be revived. It will be an anachronism if it is revived, a reference to the world of the Batak of the past. I believe there is value in such revival because I notice that many Batak people are hungry and thirsty for knowledge about their heritage. It will yield a fuller understanding of their identity. The days of the past will never return, but a weaving tradition can still be passed down in a treasured, artistic, limited form. Does it still exist anywhere in its intangible form? Because revival of the ulos tradition depends on the accessibility of this intangible knowledge. Intangible knowledge is the inspirational source of the tangible cloth. Did intangible Batak heritage benefit from National Ulos Day? Did backstrap weavers benefit?

I would like to issue a challenge to the organizers of National Batak Ulos Day. I challenge you to harness the energy and the enthusiasm of this ulos celebration in future years to benefit Batak weavers. I challenge you to investigate the ‘intangible character’ of Batak ulos (beyond the function of the cloth) and then make it known for posterity; celebrate it for your children and grandchildren so that future generations may also have access to it. What point is there in celebrating intangible heritage if that heritage is extinct? What exactly was being celebrated on 17 October? Was it perhaps just Batak ethnic pride?